Rumah itu sudah habis terbakar.blanwir terlambat datang,terhakang orang-orang yang butuh perayaan..tinggal sirenenya seperti tangis anak kehilangan ibunya.menghilang pelan-pelan.lalu hujan turun seperti blanwir yang terlambat datang.bendera berkabung harus segera dinaikan.
Kita tak punya rumah lagi,kataku sambil membersihkan kerah bajunya dari debu.ia menatapku aku melihat palu dimatanya.semua bermula dari dapur yang meledak.dan api mengejar seluruh yang mudah terbakar.terutama kenangan dan hutan bambu diruang tamu.pelipis bapak berdarah,katanya..tak apa.mari kita pergi