Aku menemukan pada lengan air yg berkilauan.menjulur perlahan dari lubuk muara yg tak bersuara membelah jazirah pasir hitam.jemari tangan,atau mungkin sepasang matamu,adalah keheningan yg menyelinap dan menggelinjir ke buih ombak.
Menghisapmu ketengah laut.
Dan laut ini tak berpulau
Angin mengembuskan uapnya kekulit leherku.bau pnas tubuhmu menganiayaku dgn ingatan yg aneh.keindahan dan kepiluan yg tak menyerupai apapun.
Sesuatu yg melebihi puisi.
Pantai lengang, pasir yg hangat pandan laut,warna batu-batu dan bentuknya yg ganjil.seorang lelaki mengawasi arus ombak,lalu beslari untuk menarik jaringnya.hanya seekor ikan dgan sisiknya yg berlepasan dan matanya yg murung dan kupastikan itu bukanlah dirimu karena kau adalah keriangan bagh keseaihanku.mengawasi arus ombak,lalu berlarì untuk menarik jaring.meski tahu laut tak akan pernah mengembalikanmu padaku.
Sekali lagi,kau adalah keriangan bagi kesedihanku.
Lengan air yg gelap menjulur dari lubuk jazirah pasir hitam.jemari tangan,atau mungkin sepasang mataku,tertahan dibatu-batu dan rumpun pandan laut.bau panas tubuhmu terus menghisap liar ingatanku.keindahan dan kepiluan,diluar apa yg mesti kutuliskan sebagai puisi.laut malam adalah baju dukacita,bintang-bintang adalah ribuan loceng dengan ombak yg terus berdengung.
Seluruhnya menyelubungi tubuhku…
(Puisi ahda imran)