Arsip Tag: ahda imran

PANTAI KARANG SARI

Aku menemukan pada lengan air yg berkilauan.menjulur perlahan dari lubuk muara yg tak bersuara membelah jazirah pasir hitam.jemari tangan,atau mungkin sepasang matamu,adalah keheningan yg menyelinap dan menggelinjir ke buih ombak.

Menghisapmu ketengah laut.

Dan laut ini tak berpulau
Angin mengembuskan uapnya kekulit leherku.bau pnas tubuhmu menganiayaku dgn ingatan yg aneh.keindahan dan kepiluan yg tak menyerupai apapun.

Sesuatu yg melebihi puisi.

Pantai lengang, pasir yg hangat pandan laut,warna batu-batu dan bentuknya yg ganjil.seorang lelaki mengawasi arus ombak,lalu beslari untuk menarik jaringnya.hanya seekor ikan dgan sisiknya yg berlepasan dan matanya yg murung dan kupastikan itu bukanlah dirimu karena kau adalah keriangan bagh keseaihanku.mengawasi arus ombak,lalu berlarì untuk menarik jaring.meski tahu laut tak akan pernah mengembalikanmu padaku.

Sekali lagi,kau adalah keriangan bagi kesedihanku.

Lengan air yg gelap menjulur dari lubuk jazirah pasir hitam.jemari tangan,atau mungkin sepasang mataku,tertahan dibatu-batu dan rumpun pandan laut.bau panas tubuhmu terus menghisap liar ingatanku.keindahan dan kepiluan,diluar apa yg mesti kutuliskan sebagai puisi.laut malam adalah baju dukacita,bintang-bintang adalah ribuan loceng dengan ombak yg terus berdengung.

Seluruhnya menyelubungi tubuhku…

(Puisi ahda imran)

ULAR HITAM

Ular hitam itu selalu mendesis saat aku mengingatmu saat kau menyelubungi pundaku.menyentuh suaramu sebuah menara tampak gemetar,pohon-pohon menjadi putih angin mengelupas pada kulit kayu,diudara burung2 gereja berjatuhan.aku melihat tubuhmu keluar dari sungai yang tak bersuara lalu lewat sebuah ciuman kau penuhi mulutku dengan kata-kata.

Setiap hari.
Kau memberiku sebuah nama lalu dengan nama itu aku mencarì siapa namamu yang sebenarnya.

Aku hidup dalam cahaya tanpa ruang diantara bayangan,suara-suara dan kebosanan.kuhindari orang-orang saleh yang mengikat tubuhnya di menara-menara purba,wajah mereka yang pucat dengan sepasang kaki lumpuh.bagiku kau lebih dari sekadar kitab atau air sucì.menyentuh tubuhmu telapak tanganku ditumbuhi ilalang,lalu kubiarkan sisik ular hitam itu tumbuh setengah lingkaran dibawah mataku.

Setiap hari ular hitam itu mengajariku sebuah kata lalu dengan kata itu aku mencari manusia.

Ular hitam itu selalu mendesis saat aku mekihat mu saat kebosanan dan kesedihan terus menyelebungì pundaku,aku berjalan mengusung tubuhku dibawah langit dan matahari yang malas.menara-menara purba,pohon-pohon putih,dan arwah burung-burung gereja yang mendengung.tengah hari disbuah kota yang gemeter kita berciuman.air liur kita menetes membasahi leherku.setiap malam kau mengutus ular hitam itu menjilati sambil mengajariku bagaimana mengucapkan sebuah nama dengan satu kata.

Yang tak pernah kau ajarikan padaku.

(Puisi ahda imran)